Translate this page to the following language!

English French German Spain Italian Dutch

Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified


Akibat Menjadi Hamba Uang

Saya adalah Suryanti Wangsa. Saya memiliki perusahaan dan bagi saya uang adalah ukuran kebahagiaan. Saya hanya fokus pada perusahaan dan tidak memperhatikan anak -anak saya. Saya memiliki cita-cita untuk membahagiakan orang tua dan memberikan fasilitas kepada anak-anak saya.

Setelah pulang kantor, saya sedang mengobrol dengan suami saya, lalu ia memberitahukan bahwa saya bahwa perusahaan kami mendapat tawaran dari banyak pabrik untuk menjadi distributor. Namun, ketika itu saya tidak setuju karena kami harus menambahkan gudang. Sementara untuk membangun sebuah gudang, membutuhkan banyak biaya.

Renungan Harian



Akhirnya dengan perdebatan yang panjang, kami memutuskan untuk membangun sebuah gudang. Namun, sebelum gudang tersebut diselesaikan, saya mendapat kabar bahwa ada salah satu perusahaan yang mengambil barang dari kami, namun belum membayar. Saya pun langsung mengecek ke lokasi. Saat itu saya sangat khawatir, bagaimana kalau perusahaan tersebut tidak membayar. Setelah saya sampai di perusahaan tersebut, ternyata sudah di segel oleh pihak bank. Yang saya rasakan ketika itu adalah hati yang hancur.

Dengan keadaan tersebut, kami pun bersepakat untuk menjual gudang milik kami. Suami saya memutuskan untuk kembali ke Sumedang untuk bekerja lagi agar bisa melunasi semua hutang-hutang kami. Karena asset mati, sisa modal pun habis di pembayaran gudang. Kami pun mengurangi pengeluaran, seperti mengurangi karyawan. Bahkan, semangat saya semakin patah ketika saudara saya menelpon untuk meminta modalnya di perusahaan saya. Akhirnya, saya berhasil membujuknya untuk mengembalikan dengan cara dicicil. Saya juga mengundurkan diri sebagai distributor dari perusahaan susu yang membesarkan nama perusahaan kami. Keadaan kami saat itu juga mengharuskan untuk menjual mobil. Karena saya tidak bisa mencicil kredit bank, akhirnya saya menambahkan waktu kredit dengan jaminan setifikat rumah orang tua saya.

Dengan apa yang saya alami ketika itu, saya merasakan bahwa Tuhan tak ada, dan saya marah kepada Tuhan. Saya berniat untuk bunuh diri saat itu. Namun, niat itu pun tidak sempat saya lakukan, karena ibu saya datang ke rumah. Akhirnya, dia pun mendoakan saya. Dan saya mendapatkan kekuatan baru. Sampai suatu ketika saya menghadiri suatu ibadah, dalam ibadah tersebut saya merasakan ada sebuah kekuatan baru.  Ketika kotbah, Tuhan memberikan kekuatan kepada saya melalui FirmanNya dari Yohanes 41:10 yang berkata : 

Janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau, janganlah bimbang, sebab Aku ini Allahmu; Aku akan meneguhkan, bahkan akan menolong engkau; Aku akan memegang engkau dengan tangan kananKu yang membawa kemenangan.

Setelah merasakan Kasih Tuhan yang luar biasa, akhirnya Tuhan mengubahkan paradigma saya melalui jalan-jalanNya. Saat ini saya merasakan kebahagiaan dengan keluarga yang utuh dalam Yesus. Semua asset saya hilang, namun Tuhan menggantikannya dengan damai sejahtera yang tak tertandingi.
Pendapat Anda:

0 komentar:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.